NO BODY LOVES ME LIKE YOU DO

Published Desember 27, 2011 by Priest789

Each time when I feel all things disappeared
I’m so glad that You are here
Through the darkest night
You always be my light
And You guide me all the way

Only you can heal broken part in me
By Your love and sensitivity
With You were by my side
Everything will be alright
You help me to see the beautiful things
You gave for me

Nobody loves me like You do
You touch my heart with love so deeply and true
I have been searching for my whole life through
Just to found that Nobody loves me like You do

Lyan dan Eva (2)

Published November 12, 2011 by Priest789

….

Sesampainya di rumah. Aku beristirahat dan keesokan harinya aku bersiap untuk pergi ke sekolah. Di sekolah aku bertemu Catherine & John. Mereka adalah temanku dan Lyan. Aku memasuki kelasku sambil menundukkan kepala.

“Apa yang terjadi Eva?. Mengapa wajahmu terlihat begitu sedih?” tanya Catherine. Aku hanya terdiam.
“Eva, tolong ceritakan pada kami apa yang terjadi padamu?. Dan, dimana Lyan? ” tanya John. Aku hanya terdiam. Suasana kelas begitu hening. Hanya ada kami bertiga di kelas 11 sains itu. Mereka memandangku penuh rasa penasaran.

“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan” dalam hatiku. Perlahan air mata ku mengalir dan membasahi kedua pipiku. Aku menarik nafas dan mencoba menceritakan kepada mereka.

“Lyan sedang berada di rumah sakit sekarang” Kataku pelan.
“Apa?!. Apa penyebabnya, Eva?. Ceritakan pada kami.” Pinta Catherine.
“Lyan sudah lama menderita suatu penyakit. Sekarang keadaannya sedang kritis” Jawabku.
“Penyakit apa yang di deritanya?” Tanya John padaku.
“Tumor otak. Tumor itu harus di operasi. Apabila tidak dia akan……..” kataku terputus dan aku menangis tersedu-sedu. Pilu hatiku untuk meneruskannya.
“Tidak ! Tidak mungkin !” teriak Catherine histeris.
“Tapi, memang itu yang terjadi Cat” kataku padanya dengan airmata yg membasahi seluruh wajahku.
“Oh Tuhan, sembuhkan Lyan” kata John.

Aku melihat mereka dengan wajah sedih. Aku tau mereka merasakan hal yang sama seperti apa yang ku rasakan. Jam pelajaran sekolahpun berlalu. Aku melangkah keluar kelas dan berpisah dengan Catherine dan John. Aku pergi menuju gerejaku. Disana aku bertemu dengan Bapak Pendeta dan aku meminta ijin untuk berdiam di gereja untuk beberapa saat. Aku berjalan menuju salib yang terpasang di dinding mimbar gereja.

“Tuhan, Bapaku. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Semua orang sedih akan apa yang Lyan derita. Bapa, kami mengasihinya. Pegang tangannya, Bapa. Dia sahabat terbaikku setelah Engkau. Lyan kesempatan kembali ya Tuhan. Untuk bernafas dan menikmati Anugrah-Mu. Sampai saat yang Engkau tentukan baginya. ” kataku didalam doaku. Aku berdoa dari siang hari hingga hampir senja. Aku melangkah keluar dari gereja. Lalu, aku pergi ke rumah sakit untuk menemani Lyan.

Sesampainya di rumah sakit aku duduk di samping ranjang tempat Lyan berbaring. Ku tatap wajahnya yang masih pucat dan masih dalam keadaan belum sadar. Aku mengambil alkitab dalam tas ku dan mulai membacanya. Detik demi detik berlalu, jam ke jam berlalu dengan cepat. Aku tertidur di samping Lyan dengan memegang tangannya.

“A……… ” terdengar suatu suara. Aku membuka mataku ku rasakan tangan Lyan bergerak. Aku terkejut bercampur bahagia. “Oh Tuhan, terima kasih. Engkau mengabulkan doaku.” kata ku dalam benakku. Aku segera berjalan menuju keluar ruangan dan mencari dokter yang merawat Lyan. Namun, sesua

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.